cerita riris

Cinta di Ujung Senja

sumber: tumblr.com
sumber: tumblr.com

Cinta itu sapa hangatmu

Cinta itu tatapan teduhmu

Cinta itu senyum manismu

Cinta itu perhatian tulusmu

Cinta itu peluk mesramu

Cinta itu tawa bahagiamu

Cinta itu air mata rindumu

Cinta itu pengorbananmu

Cinta itu, kamu

Masih ingatkah kamu, awal perjumpaan kita? Ketika matahari berpamitan mesra dengan bumi. Ketika itu pula aku memutuskan untuk menemuimu. Aku terlambat, datang dengan malu-malu. Kemudian kamu menyapaku ramah, dan cerita kita pun bermula.

Awalnya aku hanya diam saja. Mengamatimu. Menerka-nerka seperti apakah dirimu. Sebuah perkenalan singkat dan aku langsung terkesan akan sosokmu. Lembut, tapi tegas bersahaja. Namun ketika itu aku belum mempersiapkan ruang untukmu. Aku masih bertanya-tanya seberapa besar aku harus membuka hati untukmu. Dindingku masih menjulang tinggi dan teramat tebal. Tapi kupersilahkan kamu untuk mengetuk pintu.

Lambat laun aku mulai membuka diri. Mencoba memberi ruang untukmu. Tiap senja yang romantis selalu kita habiskan bersama. Selalu ada kisah menarik yang kudapat darimu. Aku selalu ingin memiliki seorang kakak. Hal yang mustahil mengingat aku adalah anak sulung. Tapi melalui dirimu, rupanya Allah mengabulkan pintaku. Bahkan melebihi impianku.

“Melapangkan hati dan memberi ruang untuk orang-rang baru memang bukan perkara mudah. Karena sejatinya ukhuwah itu tidak diperjuangkan, melainkan buah dari keimanan”

Waktu bersamamu adalah salah satu waktu terbaik yang kumiliki. Namun terkadang aku masih kalah oleh jarak dan waktu yang tega memisahkan kita. Dan aku kalah. Aku bahkan tidak mau berjuang untuk menemuimu, untuk mengukir kisah kita kembali. Hingga kamu terluka. Meski kamu tidak pernah mengatakannya, tapi aku merasa telah menyakitimu. Sementara kamu terlampau baik padaku. Saat itu aku belajar bahwa ternyata kesabaran memang tidak ada batasnya..

Kamu yang begitu perhatian. Dan aku menyia-nyiakannya. Kamu yang selalu penuh dengan kasih sayang. Sementara aku justru terkadang membencimu. Kenapa? Karena terkadang aku cemburu ketika kamu memberikan kasih sayangmu untuk yang lain. Ketika kamu selalu menasihatiku. Ketika aku sebenarnya sadar bahwa kamu benar dan aku salah. Tapi ego dan kesombonganku membuatku menampiknya dan membencimu. Aku benci mengakui bahwa kamu lebih memahamiku daripada diriku sendiri. Aku benci ketika aku menyakitimu tapi kamu selalu membalasnya dengan kasih sayang berlipat.

Satu pelajaran berharga yang selalu kuingat, katamu, manusia selalu diuji dengan titik kelemahannya. Aku tidak pernah sadar bahwa suatu hari aku akan mengalami ujian berat itu. Beruntungnya aku, ketika itu kamu selalu berada di sampingku. Setia menemani dan menguatkan. Ketika malam-malam panjang hanya kuhabiskan untuk menyalahkan keadaan dan menangis. Ketika itu pula kamu tak henti-hentinya menyemangati dan menguatkan. Bahkan ketika aku berfikir telah mampu keluar dari ujian itu.. Allah beri ujian itu lagi. Ternyata aku belum lulus. Aku kembali terpuruk. Tapi lagi-lagi, kamu dengan setia menemaniku. Membimbingku hingga aku cukup kuat untuk berjalan sendiri melewati ujian itu.

Layaknya matahari, kamu hadir memberi sinar dan kehangatanmu. Namun matahari tak selalu bisa menemani bumi. Kadang dia harus pergi dan menitipkan bumi yang dicintainya pada bulan. Dan senja itu.. senja terakhir kita. Sebuah perpisahan. Aku tidak tau harus berbuat apa. Yang aku tau, selama ini kamu terlampau baik dan aku belum mampu membalasnya. Justru aku telah meninggalkan luka dan air mata dihidupmu. Aku menyesal. Tidak bisakah Allah memberi kita sedikit lagi waktu?

“Tidak sejatinya perpisahan itu memisahan, ia hanya memberi jarak sebentar untuk pertemuan di waktu yang akan datang, dimanapun itu” –Kurniawan Gunadi

Aku berusaha menahan air mataku. Senyum palsu, tawa palsu. Aku tidak ingin perpisahan kita penuh dengan air mata. Meski saat itu hatiku sudah banjir air mata. Tergugu dalam batin, dalam sekali. Hingga lambaian tangan terakhir kita di senja itu menjadi akhir cerita kita. Senja-senjaku berikutnya, kuhabiskan tanpamu. Meski rindu, tapi kamu telah menitipkanku pada matahari baru. Dan aku berjanji tidak akan membuatnya terluka seperti aku yang dulu melukaimu.

Hingga suatu senja datang bersama gerimis. Dan ketika itu aku melihatmu lagi. Air mataku tumpah bak banjir bandang. Aku menangis sesenggukan ketika kamu datang. Aku memelukmu erat, aku tidak mau melepaskannya. Mungkin aku sudah terlalu rindu padamu. Senja saat itu kuhabiskan ditemani hujan di mataku. Ada sebongkah perasaan yang tak bisa dijelaskan ketika menghabiskan senja denganmu lagi. Aku bahkan tidak bisa berhenti menangis. Saat itu aku sadar bahwa aku menyayangimu.

Untuk kakak perempuanku yang lembut dan bersahaja, terima kasih atas segala cinta. Aku pernah menjanjikanmu sebuah puisi. Padahal aku tau aku tak mampu merangkai kata dengan baik. Tapi ijinkan aku menuliskan kisah kita. Mengabadikan untaian kasih sayang yang akan selamanya melekat dalam memoriku. Kupeluk mesra semua kenangan yang kita punya, hingga nanti dapat kuceritakan pada anak cucuku bahwa aku bersyukur telah mengenal sosokmu yang mengagumkan. Uhibbuki fillah mbak, semoga kelak kita dapat dipertemukan kembali di FirdausNya, menjadi teman bidadari-bidadari surga bermata jeli yang kita banggakan, Ainun Mardiyah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s