quotes

Memetik Buah Ke”rindu”an (Bagian 1)

Assalamu’alaykum😀

Saya baru saja menamatkan novel terbaru “Rindu” dari salah satu penulis kesukaan saya, om tere liye. Hehe sok akrab yah panggil2 om… biarin :p Novel yang tebalnya 544 halaman ini saya habiskan selama dua hari. Biasanya sih saya cuma butuh waktu sehari saja, tapi karena satu dua hal, jadi memakan waktu yang lebih lama. Tak mengapa, yang penting saya bisa tetap memetik buahnya, hehe. Ah ya, novel ini bukan punya saya. Saya cuma pinjam adek saya, dan adek saya pinjem temennya. Jadi maaf sekali yang udah pada ngantri mau minjem.. saya nggak bisa minjemin. Tapi kalau mau pinjem novel tere liye yang lain, saya punya, alhamdulillah hadiah semua. Maafin juga yah udah pamer ._.

Saya selalu suka novel karya om tere. Isinya nggak seperti novel2 yang lain. Novel2 karya om tere berbeda. Yah, saya akan bahas itu lain kesempatan. Sekarang saya mau berbagi buah ke”rindu”an yang sudah saya petik. Tapi karena banyak banget nih buahnya, jadi saya bagi dua atau tiga bagian. Baiklah, saya persembahkan.. bagian pertamanya~

“Aku juga pernah muda seperti kau, Ambo. Hanya dua hal yang bisa membuat seorang pelaut tangguh berhenti bekerja di tempat yang dia sukai, lantas memutuskan pergi naik kapal apa pun yang bisa membawanya sejauh mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang sangat dalam. oh my son, jangan-jangan, kau mengalami dua hal itu sekaligus.” –Kapten Phillips

Tentang perjalanan.

“Perjalanan kita mungkin masih jauh sekali. Tentu saja bukan perjalanan kapal ini yang kumaksud. Melainkan perjalanan hidup kita. Kau masih muda. Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekadar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya adalah pemberhetian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan yang paling hakiki.

Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka jangan rusak kapal kehidupan milik kau, Ambo, hingga dia tiba di dermaga terakhirnya.” –Gurutta

Tentang kenyataan hidup dan masa lalu.

“Kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup, Nak. Tapi sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah, semakin keras kau berusaha lari, maka semakin kuat cengkeramannya. Semakin kencang kau berteriak melawan, maka semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, memantul lagi memenuhi kepala. Sayangnya, kau justru melakukan hal tersebut. Kekeliruan paling mendasar yang dilakukan orang-orang saat menghadapi kenyataan hidup, masa lalunya yang pedih. Lari.

Kita tidak bisa melakukan itu, Upe. Tidak bisa. cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. Apakah mudah melakukannya? Itu sulit. Tapi bukan berarti mustahil.” –Gurutta

Tentang penilaian orang lain.

“Ketahuilah, Nak, saat kita tertawa, hanya kitalah yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam seluruh kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat kita menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangisan itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. Orang lain hanya melihat luar. Maka, tidak relevan penilaian orang lain.

Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.

Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri tentang penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.” –Gurutta

–Tere Liye, “Rindu”

Yak bagian pertama segitu dulu yaaap. InsyaAllah besok disambung lagi~ Makasih sudah mau mampir baca.. semoga kalian  bisa ikut memetik buah kerinduannya :’)

2 thoughts on “Memetik Buah Ke”rindu”an (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s