uncategorized

Jatuh

Jatuh? Lagi? Tidak. Aku tidak mau. Tuhan, jangan biarkan aku jatuh lagi. Kumohon.

Aku baru saja belajar berjalan (lagi) setelah dulu sempat terjatuh. Berat memang rasanya. Merangkak, mencoba berdiri, kemudian terjatuh lagi. Sulit memang. Tiap kali harus merintih dan tertatih. Tapi tak mengapa. Kini aku sudah bisa berjalan. Meski masih, terkadang tersangkut.

Jatuh waktu itu menjadi pelajaran untukku. Jangan pernah jatuh, jika kau tahu belum tepat. Jatuh waktu itu menyisakan luka.  Meremukkan yang sebelumnya utuh. Apa-apa yang jatuh tidak pada tempatnya akan berakhir hancur bukan? Mungkin seperti itu. Dan setelah sekian lama waktu berjalan, waktu mulai menyembuhkan. Memang tidak sempurna lagi bentuknya. Penuh tambalan? Iya. Retak? Iya. Berantakan? Iya. Tapi setidaknya masih berbentuk.

Kini aku berada di tepian jurang yang lain, yang jika ditengok, sepertinya ada yang indah dibawah. Dan rasa-rasanya menyenangkan jika menjatuhkan diri ke jurang itu. Siapa tahu akan sampai ditempat yang indah tersebut. Tidak. Aku tidak mau jatuh lagi. Sebelumnya juga seperti itu. Tampaknya indah. Hah, tampaknya saja yang indah. Padahal itu semua cuma ilusi. Bayangan semu. Fatamorgana. Ah aku mulai berlebihan.

Sudah, menjauhlah. Maka kamu akan terjaga, semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s